MEDAN BUNG

Tempat-tempat Wisata

Posted on: Desember 23, 2008

Tempat wisata di Aceh

1. Mesjid Raya Baiturahman

Mesjid Raya Baiturahman yang terletak di pusat kota Banda Aceh yakni di Pasar Aceh merupakan mesjid kebanggan masyarakat Aceh. Mesjid ini juga selamat dari ganasnya Tsunami meskipun sempat digenangi air setinggi dua meter lebih. Mesjid ini memiliki sejarah yang berarti.

Sejarah mencatat pada jaman dulu ditempat ini berdiri sebuah Mesjid Kerajaan Aceh. Sewaktu Belanda menyerang kota Banda Aceh pada tahun 1873 Mesjid ini dibakar, namun untuk meredam kemarahan rakyat Aceh pada tahun 1875 Belanda membangun kembali sebuah Mesjid sebagai penggantinya yang berdiri megah saat ini.

Mesjid ini berkubah tunggal dan dibangun pada tanggal 27 Desember 1883. Selanjutnya Mesjid ini diperluas menjadi 3 kubah pada tahun 1935. Terakhir diperluas lagi menjadi 5 kubah (1959 – 1968)

Mesjid ini merupakan salah satu Mesjid yang terindah di Indonesia yang memiliki bentuk yang manis, ukiran yang menarik, halaman yang luas dan terasa sangat sejuk apabila berada di dalam ruangan Mesjid tersebut.

2. Pantai Lampuuk

Pantai Lampuuk terletak di pantai barat Aceh. Dari Banda Aceh kurang lebih 17 km dan dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor dalam waktu kurang dari 30 menit. Namun sayangnya pantai yang cukup terkenal dan menjadi tempat wisata favorit penduduk Aceh tersebut musnah tersapu Tsunami.

Pantai ini cukup indah dan dapat digunakan sebagai tempat berenang, berjemur di pasir putih, memancing, berlayar, menyelam dan kegiatan rekreasi lainnya.

Disore hari pantai ini terasa lebih indah, dimana kita dapat menyaksikan matahari terbenam yang penuh pesona.

Disekitar pantai Lampuuk juga berdiri megah sebuah pabrik semen Andalas, namun saat itu pabrik tersebut hanya tinggal kenangan setelah mengalami kerusakan parah akibat gempa dan Tsunami 26 Desember 2004 yang lalu.

Dikawasan Pantai Lampuuk, anda dapat bermain golf dengan latar belakang panorama laut di Padang Golf Seulawah. Sayangnya semua keindahannya kini tinggal kenangan dan tinggal menungguk pemerintah memperbaiki wisata yang cukup digemari turis asing tersebut.

3. Taman Wisata Alam Laut Pulau Weh Sabang

Taman Wisata Alam (TWA) Laut Pulau Weh ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 928/Kpts/Um/12/1982 tanggal 27 Desember 1982 seluas 2.600 Ha. Secara geografis TWA Laut Pulau Weh terletak pada 0552’ Lintang Utara dan 9552’ Bujur Timur. Sedangkan secara administrasi pemerintahan termasuk Kecamatan Sukakarya, Kotamadya Sabang, Propinsi D.I. Aceh dan dari segi pengelolaan hutannya termasuk Resort Konservasi Sumber Daya Alam Iboih dan masuk pada Sub Balai Konservasi Sumberdaya Alam Propinsi NAD.

Di TWA Laut Pulau Weh, Sabang terdapat terumbu karang, baik karang yang keras maupun karang yang lunak dengan berbagai jenis, bentuk dan warna, yang kesemuanya membentuk gugusan karang yang menarik untuk dinikmati, antara lain karang dengan nama daerahnya karang lupas, karang rusa, karang kerupuk.

Selain terumbu karang, TWA Laut Pulau Weh, Sabang dapat ditemui jenis-jenis ikan karang seperti Angel fish, Tropet fish, Dunsel fish, Sergeon fish, Grope fish, Parrot fish dan lain-lain. Ikan-ikan ini berada di sekitar TWA Laut Pulau Weh dan sebagian merupakan endemik di daerah ini. Selain itu juga banyak ditemukan jenis-jenis ikan ekonomis seperti Tuna, Kakap, Kerapu, Bayan, Pisang-pisangan dan lain-lain.

Kegiatan wisata alam yang dapat dilakukan di TWA Laut Pulau Weh adalah kegiatan wisata tirta seperti berselancar, naik sampan, berenang, memancing, serta menyelam untuk menikmati alam bawah air dengan keanekaragaman terumbu karang serta ikan-ikan karangnya yang indah.

Beberapa fasilitas yang dapat mendukung kegiatan wisata antara lain : pondok-pondok penginapan di sekitar Iboih yang dibangun oleh masyarakat, shelter, MCK, masjid, kios cendera mata dan hotel yang terdapat di Gapang. Selain itu terdapat berbagai fasilitas yang berada di Pulau Rubiah yang dibangun oleh Dinas Pariwisata Dati I D.I. Aceh antara lain : pusat kegiatan menyelam yang dilengkapi dengan fasilitasnya (perahu motor, peralatan selam), mushola, shelter, MCK, rumah jaga, menara pengintai, jalan setapak, taman dan instalasi listrik.

4. Krueng Raya

Krueng Raya berjarak 35 Km dari Banda Aceh merupakan sebuah nama wilayah. Di daerah tersebut terdapat pelabuhan yang bernama “Pelabuhan Malahayati” yang sering dipergunakan masyarakat Banda Aceh untuk menyebrang ke pulau Weh (Sabang). Pelabuhan tersebut akhirnya dinon aktifkan setelah pelabuhan Ulee Lhe yang lebih megah dibangun (namun sama saja hancur karena Tsunami). Krueng Raya yang termasuk daerah dengan kerusakan terparah akibat Tsunami dapat ditempuh dalam waktu 30 menit dari Banda Aceh.

Di daerah ini juga sangat terkenal dengan pantainya yang bernama Ujong Batee, disana selain pantainya yang indah juga terdapat sebuah restoran yang cukup megah yang menyajikan makanan khas Aceh yang terkenal yaitu Kepiting Besar, Udang Windu, Tiram, Telur Penyu, dan berbagai hasil laut dan pertanian lainnya. Pantai Ujong Batee sendiri terletak sekitar 17 km arah timur Banda Aceh. Pantainya yang ditumbuhi pohon cemara yang lebat merupakan pelindung para pengunjung bila hari panas sehingga cukup nyaman untuk bersantai. Ujong Batee dalam bahasa Aceh berarti Ujung Batu, mungkin nama ini diberikan karena dari pantai inilah kita dapat langsung melihat pulau seberang Sabang

Selain Ujong Batee, di Krueng Raya juga terdapat daerah wisata bernama Lamreh, daerah ini merupakan daerah bukit yang dulunya tandus.

Tempat wisata di Sumatera Barat

Pantai Aia Manih

Sekitar 4 Km di Selatan Kota Padang, Berupa perkampungan nelayan dengan pntai yang indah. Disinilah desa tempat terjadinya legenda Malin Kundang. Bagian batu-batu pantai Aia Manih ada yang menyerupai bekas sebuah kapal. Inilah yang dilegendakan sebagai Kapal Malin Kundang yang telah menjadi batu

Taman Siti Nurbaya

Lokasinya di Gunung Padang, di seberang Muara Batang Arau, Padang. Disebut Taman Siti Nurbaya kaena dilereng gunung itu terdapat setumpukan batu yang dianggap sebagai kuburan Siti Nurbaya dengan kekasihnya Syamsul Bahri. Dari sini dapat disaksikan keindahan kota Padang dengan bangunan bergonjong

Pantai Bungus

Sebuah teluk yang tenang, 20 Km diselatan Padang dengan pemandangan alam yang indah dan pantai yang bersih. Baik untuk rekreasi laut seperti berenang, memancing, bersampan atau hanya sekedar menikmati pemandangan saat perahu nelayan berangkat ke laut di sore hari. Dari Pantai Bungus atau Pelabuhan Muara Padang dapat disewa perahu bermotor menuju pulau terdekat seperti ke Sikuai Resort, Sirandah, Pagang dan Persumpahan

Kepulauan Mentawai

Terdiri dari 4 pulau besar yaitu Siberut, Sipora, Pagai Utara dan Pagai Selatan. Budaya asli dan unik masih ditemui dikawasan ini, terutama di daerah pedalaman dimana masyarakatnya masih hidup bersahaja. Di pulau Siberut terdapat cagar alam, tempat hidup berbagaisatwa langka yang tak terdapat di bagian dunia lain seperti simpai Mentawai, siamang kerdil dan kera endemik Mentawai. Ombaknya sunggu menantang untuk olah raga selancar (surfing).

Museum Puti Bungsu

Dibangun tahun 1935 dengan bentuk rumah gadang asli Minangkabau aliran Koto Piliang, berdasarkan bentuk yang ada di kenagarian Kubang Putih, Banuhampu yang sudah lama rubuh. Museum ini terletak di komplek kebung binatang dan digunakan sebagai museum kudayaan Minangkabau.

Gedung Negara Bung Hatta

Dulu bernama Gedung Negara Tri Arga. Gedung ini mempunyai latar belakang sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia

Benteng Fort De Kock

Dibangun dipuncak sebuak bukit di Bukittinggi tahun 1825, pada waktu terjadi perlawanan rakyat yang dipimpin Tuanku Imam Bonjol dan Hariamau nan Salaban. Parit pertahanan Belanda dan meriam kuno masih dapat dilihat diseputar benteng.

Benteng Van Der Capelien

Benteng pertahanan Belanda masa Perang Padri (1821-1837) terletak ditengah Kota Batusangkar, kini juga sebagai markas Kepolisian.

Lubang Japang

Sebuah terowongan yang panjangnya ratusan meter dan berbelok belok, sekitar 2 meter dibawah permukaan tanah Kota Bukittinggi. Dibuat oleh tentara Jepang saat Perang Dunia II. Ditempat-tempat tertentu dalam terowongan terdapat kamar-kamar. Mulut terowongan ada di beberapa tempat, antaranya di dinding Ngarai Sianok, di Panorama di samping gedung Bung Hatta, di kebun binatang dll.

Ngarai Sianok

Terletak di sisi kota Bukittinggi, memanjang hampir 15 Km. Ngarai Sianok merupakan lembah subur dan hijau dengan tebing curam berketinggian antara 100-150 m. Didasarnya mengalir sungai berliku-liku. Mengayun langkah di jalan setapak dilembah ini merupakan rekreasi menarik. Bila perjalanan dilanjutkan ke seberang ngarai, pengujung akan sampai di Kota Gadang atau Sianok.

Ngalau Kamang

Ngalau (gua) Kamang merupakan gua stalagtit dan stalagmit yang indah, terletak di Kecamatan Tilatang Kamang, Kabupaten Agam, 14 Km dari Kota Bukittinggi. Ngalau berada disenuah bukit kapur dengan panjang sekitar 1.500 meter

Puncak Lawang

Merupakan puncak sebuah bukit di daerah Lawang, 27 Km arah barat Bukittinggi. Disamping tempat rekreasi dengan panorama alam yang menakjubkan, daerah ini terkenal dengan sebagai penghasil gula merah dan kampil yang terkenal dengan kampil Matur. Pembuatan gula itu, secara tradisional maupun modern dapat disaksikan langsung oleh siapapun yang berkunjung.

Danau Maninjau

Danau ini terkenal karena keindahan alam dan kesuburan tanahnya, merupakan danau alami yang dulunya berupa kedlera gunung berapi. Jalan menuju danau ini dari Bukittinggi yang disebut Kelok 44 sangat terkenal karena mempunyai belokan, tanjakan maupun turunan sangat tajam diantaranya nyaris 180 derajat.

Danau Singkarak

Dipinggirnya berliku-liku jalan raya yang menghubungkan Batusangkar dengan Solok, merupakan tempat rekreasi sangat polpuler. Disekitar danau terdapat fasilitas penginapan serta olahraga air seperti motorboat dan ski air. Ikan khas yang dihasilkan nelayan setempat terkenal dengan nama ikan bilih.

Danau Diatas Dibawah

Dikenal dengan sebutan Danau Kembar karena berdampingan dalam jarak sekita 1 Km, terletak di perjalanan menuju Alahan Panjang, 47 Km dari Solok. Kedua danau kembar berada pada ketinggian yang berbeda sehingga dinamakan Danau Diatas dan Danau Dibawah. Selain untuk rekreasi, tempat ini cocok untuk berkemah, lintas alam dan mendaki gunung

Koto Gadang

Terletak sebelah Barat Kota Bukittinggi. Nagati ini terkenal dengan kerajinan perak. Dari kenagarian ini pula banyak berasal tokoh-tokoh republik yang sangat berjasa itu seperi H. Agus Salim, Muhammad Hatta, Emil Salim dll

Batu Batikam

Di Limo Kaum, menurut tuturan Tambo (lengenda sejarah Minangkabau) merupakan batu yang ditikam sebagai petanda kesepakatan Datu Parapatiah Nan Sabatang dengan Datuk Katumanggungan, dua orang datuk yang dianggap sebagai penyusun dasar adat Minangkabau

Batu Basurek

Di Limo Kaum, memuat inskripsi dalam huruf Palawa dengan bahasa Sansekerta, yang menyatakan bahwa Aditiawarman adalah Raja Diraja di Kinikamedinindra (pulau emas) tahun 1347

Batu Basurek di Pagaruyung ditulis tahun 1347, Batu/Banda Bapahek di Saruaso dan beberapa batu bersurat lainnya yang semuanya merupakan peniggalan masa Aditiawarman.

Ustano Pagaruyung

Merupakan perkuburan raja-raja Pagaruyung. Didekat tempat terdapat pula sebuah batu yang disebut batu pancar matoari sebagai lambang Aditiawarman (aditya = matahari). Konon dibatu ini pula Aditiawarman menemui ajalnya setelah dipancung dalam sebuah pertempuran.

Istano Pagaruyung di Padang Siminyak merupakan bangunan baru yang dibangun untuk mencerminkan bahwa satusan tahun lalu di daerah itu terdapat sebuah kerajaan.

Istano/Rumah Gadang Silinduang Bulan di Balai Janggo Pagaruyung. Merupakan bangunan baru yang dibangun sebagai pengganti istana yang terbakar puluhan tahun sebelumnya. Disini tersimpan benda-benda peninggalan serta silsilah raja-raja kerajaan Pagaruyung hingga keturunanya sekarang.

Balairung Sari

Juga dipusat kota Batusangkar, berbentuk rumah adat Miangkabau, sudah berusia 200 tahun.

Silungkang

Sebuah kota kecil yang termasuk wilayah Kotamadya Sawahlunto terkenal dengan tenunan songketnya, kerajinan tradisional dengan mutu dan motif khas daerah ini. Selain itu, daerah ini juga terkenal dengan kerajinan alat-alat rumah tangga seperti sapu ijuk, sapu lidi dll. Belakangan ini juga terkenal sebagai daerah penghasil suiseki (batu alam berwarna warni yang digunakan sebagai hiasan).

Lembah Anai

Adalah sebuah lembah disela pegunungan dengan hutan tropis yang lebat, terletak diperbatasan antara Kabupaten Padang Pariaman dengan Tanah Datar (Padang Panjang), ditengah perjalanan antara Padang dengan Bukittinggi. Daerah seputarnya merupakan cagar alam dengan hutan lebat yang sangat mengesankan. Dibawahnya mengalir Batang Anai dengan kebeningan dan keheningan airnya. Disisi lain terdapat air terjun setinggi 40 meter, lapangan golf dan Anai Resort

Pandai Sikek

Nagari ini terkenal sebagai daerah kerajinan ukiran kayu dan tenunan kain songket. Mutu dan motif hasil karya penduduk setempat cukup terkenal tidak hanya di Sumatera Barat tetapi juga di luar negeri. Hampir setiap rumah di daerah ini mempunyai alat tenun yang masih tradisional.

Tugu Khatulistiwa Bonjol

Sebuah tugu yang menandai garis lintas khatulistiwa, terletak di pinggir jalan raya ke arah Sumatera Utara. Tugu dan daerah sekitarnya kini dijadikan Taman Khatulistiwa

Rimbo Panti

Cagar alam Rimbo Panti juga merupakan hutan perawan, dimana hidup berbagai binatang liar seperti harimau (jenis harimau Sumatera ini disebut harimau panti), macan tutul, tapir, rusa, kambing h utan, berbagai monyet, burung-burung dan sebagainya. Didaerah ini juga terdapat kawah dengan magma menggelegak yang menyebabkan air disekitarnya selalu panas.

Tabuik Pariaman

Pesta tabuk diadakan setiap tahun tanggal 1 hingga 10 Muharram di Pariaman, 60 Km dari Padang. Inti sebuah tabuik adalah seekor buraq (kuda sembrani) berkepala wanita cantik yang dianggap telah membawa arwah Hasan dan Hosen cucu Nabi Muhammad saw ke surga. Dua buah tabuik diarak dan di hoyak keliling kota diiringi keriuhan gandang tasa. Kala matahari terbenam tanggal 10 muharam tabuik pun dibuang kelaut lepas.

Menhir Maek

Kenagarian Maek (Mahat) terletak di Kecamatan Suliki Gunung Mas, 165 Km dari Padang, 45 Km di utara Payakumbuh. Disini terdapat ditus menhir terbesar di Indonesia. Di situs Koto Tinggi dan Bawah Parik, berbanjar di padang terbuka,satu arah ke tenggara (kearah Gunung Sago di Kecamatan Luhak), masing-masing terdapat lebih 300 batu tagak (menhir). Merupakan peninggalan budaya megalit Minangkabau sejak masa Neolithicum (Zaman Batu Baru), sekitar lebih 2.500 tahun berlalu. Di Koto Tinggi, batu tagak itu terletak di padang terbuka di puncak sebuah bukit. Sekeliling perbukitan melingkung penuh, diatasnya cakrawala terbuka dengan langit penuh memayungi. Dari pasar Maek, pemandangan spektakuler padang menhir itu sudah dapat dilihat. Diterpa cahaya mentari sore, batu-batu purba itu terlihat berkilat-kilat.

Selain batu tagak, di desa Koto Gadang dan Ampang Gadang juga terdapat bekas balai-balai batu (batur pemujaan)

Talempong Batu Talang

Dapat ditemui di Kenagarian Talang Anau, kecamatan Gunung Mas, merupakan jenis batu dolmen yang juga peninggalan tradisi megalit. Terdiri dari sekelompok batu yang bila dipikul dapat mengeluarkan irama seperti nada talempong (alat kesenian tradisional Minangkabau).

Tugu PDRI Koto Tinggi

Di Kenagarian Koto Tinggi, Kecamatan Suliki Gunung Mas, 40 Km di Utara Payakumbuh. Disinilah berdiri menumen perjuangan mengenang Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) mata rantai tak perpisahkan dari perjuangan menegakkan kemerdekaan RI. Setelah aksi militer kedua Belanda pada 22 Desember 1948, pucuk pimpinan RI ditangkapi. Presiden Sukarno memberikan mandat kepada Mr. Amir Syarifuddin Prawiranegara untuk membentuk PDRI. Menteri kemakmuran dalam kabinet Hatta itu yang sedang berada di Bukittinggi, segera melaksanakan tugas. Pemerintahan PDRI berpindah pidah dari Bukittinggi, Alaban terus ke Koto Tinggi untuk menghindari serangan Belanda. Koto Tinggi lebih dikenal karena di negeri inilah aktivitas PDRI banyak dilakukan, menggunakan pemancar radio mini milik AURI untuk komunikasi dengan komando Jawa dan luar negeri. Pemerintah darurat itu berakhir 4 Juli 1949.

Museum Arkeologi Balibuih

Negeri Balubuih di Kecamatan Guguk, 134 km dari Padang, 10 Km dari Payakumbuh. Disini terdapat museum kepurbakalaan (site museum) sebagai pusat informasi peninggalan megalit di Kabupaten 50 Kota. Di Kecamatan Guguk sendiri terdapat hampir 70 situs diareal yang hanya seluas 206 km persegi, sebagian besar mengelompk di Talago dan pinggi batang Balubuih. Selain batu tagak, beberapa temuan purbakala lainnya dapat ditemukan disini, antara lain kapak batu, beliung batu, kapa genggam, manik-manik serta pecahan tembikar.

Pacu Itiak

Merupakan olah unik masyarakat 50 Koto, terdapat disekitar kota Payakumbuh, tepatnya di Luhak, Payakumbuh Timur dan Payakumbuh Barat. Untuk dapat dilombakan dalam arena pacu, itik-itik tersebut terlebih dahulu dilatih agar dapat terbang dari garis star hingga garis finish. Melihat itik berpacu, jelas merupakan tontonan sangat menarik. Biasanya diadakan bulan Juli, Agustus dan September setiap tahun.

Rumah Gadang Koto Nan IV

Dikanagian Koto Nan 4, Payakumbuh terdapat rumah gadang yang diperkirakan sudah berusia 250 tahun. Memiliki anjung peranginan, diduga merupakan salah satu dari sedikit rumah baanjuang masa lalu yang masih tersisa di Sumatera Barat. Termasuk jenis Situnjau Lauik dari alirak Koto Piliang. Di dalamnya masih terseimpan peninggalan-peninggalan bersejarah.

Lembah Harau

Berjarak 15 km dari Payakumbuh, berupa sebuah lembah yang dikelilingi batu curam dengan ketinggian 100 – 150 meter. Selain air terjun (disebut sarasah) dengan telaga yang indah, daerah ini merupakan cagar alam dimana hidup berbagai binatang liar seperti harimau, babi hutan, kambing hutan, tapir, siamang serta berbagai jenis burung yang masih bebas menjelajah alamnya.

Ngalau Indah

Berupa gua di lereng gunung. Pintu masuk gua ini berada dekat jalan raya Bukittinggi-Payakumbuh. Dekat pintu masuk ini terdapat sebuah batu mirip gajah. Di dalam gua bertakhta ribuan kelelawar yang nyaris tak terlihat bila kita berada di sana. Keberadaan mereka hanya terdengar dari cicit suara dan ketika ada yang terbang melintas di atas kepala kita. Udara di dalamnya terasa basah dan menyejukkan memberikan kesegaran setelah didera panas di bagian luar.

Rumah Gadang Sei.Baringin

Di Sungai Beringin, Kecamatan Payakumbuh. Bangunan baru yang tetap mempertahankan keterampilan tangan anak nagari saat pembuatannya. Setiap jengkal bangunan dipenuhi ukiran. Ditempat ini dapat dinikmati “Kincia Aia” (kincir penumbuk padi memanfaatkan sistem irigasi tradisional), Pondok Karajo (dimana dapat dilihat hasil kerajinan tradisional seperti apa besi, tenunan songket, makanan tradisional, kerajinan perak dll), Mairiang marapulai jo Anak Daro (prosesi pernikahan), Balantuang kaniang (bagian prosesi pernikahan), makan bajamba (makan bersama model Minangkabau) dan tari serta nyanyi tradisional. Setiap hari pengunjung disuguhi carano pasambahan, aia niro (minuman selamat datang) dan atraksi baruak panjek karambia (baruak memetik kelapa sebagaimana diperintah tuannya) serta pacu itik (lomba itik terbang).

Tempat wisata di Makasar dan daerah lainnya di Sulsel

Potensi Pariwisata Sulsel Tempat wisata yang menarik di Makassar

- Benteng Ujung pandang ( Fort Rotterdam)
- Pelabuhan Paotere
- Kebun Anggrek Bundda Koleksi Kerang Laut
- Makam Diponegoro
- Pulau Samalona
- Pulau Barang Lompo
- Pulau Kayangan
- Barombong

Potensi Pariwisata Sulsel Kabupaten Gowa- Kompleks Istana/ Museum Balla Lompoa

- Makam Sultan Hasanuddin
- Makam Syech Yusuf
- Benteng Somba Opu
- Mesjid Tua Katangka
- Mesjid Agung Syech Yusuf
- Dam Bili-Bili
- Air Terjun Takapala
- Perkebunan Teh
- Hutan Wisata Malino
- Perkebunan Markisa
- Upacara Adat Accera Kalompoang

Potensi Pariwisata Sulsel Kabupaten Maros- Air Terjun Bantimurung

- Goa Mimpi
- Taman Purbakala Leang-leang
- Taman Purbakala Subang Bita
- Pulau Kapopo?ang
- Pare- Pare :
- Permandian Lumpue
- Wisata Laut Ujung Lero
- Pinrang :
- Irigasi saddang PLTA Bakaru
- Enrekang :
- Buttu Kabobong
- Puncak Lakawan
- Sungai Sa?dang

Potensi Pariwisata Sulsel Kabupaten Tana Toraja- Kota makale

- Rante Pao
- Kuburan Batu Lemo
- Kuburan Sisi Batu Karang Londa
- Suaya Kuburan Raja-raja Sangalla
- Sangalla
- Ke?te Ke?su
- To?Barana Sa?dang
- Palawa – Karassik
- Marante – Tondon
- Batutumonga – Lokomata
- Makula – Bori?
- Buntu Kalando – Ponania

Potensi Pariwisata Sulsel Kabupaten Bulukumba- Pantai Bira

- Kajang

Kabupaten Bone :

- Makam Raja Abad ke XVII
- Makam Raja Gowa

Soppeng :

- Permandian Alam Lejja

Kabupaten Wajo :

- Perkampungan Nelayan Terapung
- Salo Tengngae
- Binatang Liar Biawak

Potensi Pariwisata Sulsel Kabupaten Selayar- Gong Raksasa (Nekara Tua)

- Wisata Taka Laut Bone Rate

Kabupaten Polmas :

- Buntu Balla
- Buntu Kasisi
- Balla Peu

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • Angie Silitonga: wah makasih bgt y MEDANBUNG !!!!!! sgt membantu ak untk ngerjain tugas MULOK & Biologi ak nih !!!! hoahahahaha padahal ak org MEDAN jg lho !!!!
  • Didi Tikus hanya di TPI satu untuk semua: huh.....................................................huh.....tuh......................................................huh..........................
  • Bob si siput: picetantropus tu apa ya??? hmmmmm............. bingung
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: