MEDAN BUNG

Muchdi Bebas,… benarkah ?

Posted on: Januari 7, 2009

Tidak perlu berlama-lama Muchdi Purwopranjono berstatus sebagai pesakitan. Pada Juni 2008, mantan Deputi V Badan Intelijen Negara (BIN) itu ditetapkan sebagai tersangka kasus pembunuhan aktivis HAM Munir, peristiwa yang terjadi empat tahun sebelumnya.

Namun, sehari menjelang tahun baru, dia menerima ‘kado’ yang diidam-idamkannya. Majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 31 Desember menyatakan Muchdi tidak terbukti melakukan pembunuhan berencana terhadap aktivis HAM peraih The Right Livelihood Award itu.

‘Kado’ bagi mantan komandan jenderal (danjen) Kopassus itu justru merupakan ironi serta olok-olokan yang tidak lucu bagi masyarakat, bahkan pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Bukankah Kepala Negara sendiri yang menyatakan komitmennya dalam membongkar hingga tuntas kasus tewasnya Munir di pesawat terbang yang membawanya ke Belanda?

Faktanya, terdakwa bukannya mendapat hukuman setimpal atas dakwaan yang dialamatkan kepadanya. Muchdi malah divonis bebas!

Bebasnya Muchdi, dengan demikian, kembali menjadi taruhan bagi kepemimpinan Presiden Yudhoyono. Rasa sedikit lega masyarakat di bidang ekonomi setelah pemerintah menurunkan lagi harga premium dan solar hendaknya juga diikuti oleh langkah nyata di bidang lainnya.

Pengungkapan kasus Munir adalah salah satunya untuk menyimak betapa kinerja pemerintah di luar sektor ekonomi masih terseok-seok. Lihat saja, Muchdi baru ditetapkan sebagai tersangka setelah hampir empat tahun mantan aktivis itu mengembuskan napas terakhir.

Padahal, tewasnya pejuang HAM asal Batu, Malang, itu tidak bisa lagi dianggap sekadar urusan dalam negeri. Karena sudah menjadi ikon terdepan dalam penegakan HAM di negeri ini, kepergian Munir otomatis juga menjadi keprihatinan internasional.

Alhasil, wajar pula bila negara lain bertanya-tanya dengan penuh keheranan, kok sang terdakwa bisa menghirup udara bebas?

Tampak sekali Presiden Yudhoyono tidak nyaman dengan vonis bebas terhadap Muchdi. Oleh karena itu, janji Kepala Negara untuk memanggil Kapolri Jenderal Pol. Bambang Hendarso Danuri dan Jaksa Agung Hendarman Supandji menyangkut putusan pengadilan yang mengejutkan itu harus segera direalisasikan.

Sudah selayaknya pula hasil pelaporan lengkap mengenai putusan itu berujung pada pemenuhan rasa keadilan masyarakat yang paling hakiki.

Vonis terhadap Muchdi memang belum bersifat final dan mengikat. Inilah saatnya bagi Kejaksaan Agung, juga Polri, untuk menempuh proses hukum lebih lanjut agar keadilan di negeri ini benar-benar dapat ditegakkan.

Tidak perlu lagi kita bertanya bagaimana perasaan Suciwati, istri almarhum Munir, mendengar ‘kado’ tahun baru yang diterima Muchdi. Kekecewaan ibu rumah tangga yang tetap gigih menyuarakan keadilan bagi pengungkapan kasus tewasnya Munir juga dirasakan banyak elemen masyarakat lainnya. Mereka menilai ada sejumlah kejanggalan dalam putusan yang membebaskan mantan danjen Kopassus itu.

Hal itu antara lain menyangkut banyaknya penarikan kesaksian dari beberapa anggota BIN dalam proses persidangan. Ironisnya, majelis hakim tidak melihat hal penting untuk didalami lebih lanjut dari perubahan pernyataan para saksi itu.

Sebaliknya, orang awam bisa saja beranggapan atmosfer persidangan yang menghadirkan Muchdi penuh dengan suasana intimidatif, sehingga membuat para saksi dari BIN ciut nyalinya.

Padahal, dalam kondisi apa pun, peradilan harus berjalan independen. Ia tidak perlu takut menghadapi berbagai ancaman yang mengarah kepada dirinya untuk mengubah hasil akhir persidangan.

Hal itu hanya bisa terwujud bila pemerintah memegang teguh komitmennya, sebuah tantangan yang disebut Presiden Yudhoyono sebagai the test of our history.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: